Pemerintah Siapkan Ambil Alih 60 Persen Saham KCIC, Utang Whoosh Dialihkan ke Lembaga Kemenkeu
CERITANEGERI,MAKASSAR — Pemerintah menyiapkan pengambilalihan saham pengendali PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), operator Kereta Cepat Jakarta–Bandung atau Whoosh. Sebanyak 60 persen saham yang saat ini dikuasai konsorsium BUMN Indonesia akan dialihkan kepada lembaga di bawah Kementerian Keuangan sebagai bagian dari penyelesaian kewajiban pembiayaan proyek.
Rencana tersebut disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers bersama Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara pada Rabu, 5 Agustus 2026. Purbaya mengatakan lembaga yang nantinya ditunjuk juga akan bertanggung jawab menangani pembayaran pinjaman proyek Whoosh.
Purbaya belum mengungkap nama lembaga yang akan menerima saham tersebut. Sebelumnya, ia menyebut pemerintah memiliki sejumlah Special Mission Vehicle (SMV) di bawah Kementerian Keuangan yang dapat digunakan dalam skema penyelesaian kewajiban Whoosh.
Dalam penjelasan terbarunya, Purbaya menegaskan penanganan pinjaman melalui lembaga tersebut tidak akan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Detail mengenai sumber dana, struktur pembiayaan, maupun SMV yang akan dipilih belum diumumkan kepada publik.
Sebelumnya, pada Juli 2026, Purbaya juga mengatakan pemerintah sedang menyiapkan instrumen di luar APBN untuk menangani kewajiban proyek. Saat itu, ia menyatakan penggunaan APBN akan ditekan semaksimal mungkin agar tidak mengganggu anggaran program pemerintah lainnya.
Chief Operating Officer Danantara Dony Oskaria mengatakan proses pengalihan saham tersebut ditargetkan selesai paling lambat pertengahan September 2026.
Saat ini, 60 persen saham KCIC dimiliki PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), konsorsium perusahaan negara Indonesia yang dipimpin PT Kereta Api Indonesia. Sebanyak 40 persen sisanya dikuasai konsorsium perusahaan China dan, berdasarkan rencana pemerintah saat ini, porsi kepemilikan tersebut tetap dipertahankan.
Struktur pembiayaan proyek Whoosh sejak awal menggunakan skema yang didominasi pinjaman. Data Kementerian Keuangan mencatat sekitar 75 persen kebutuhan pembangunan berasal dari pinjaman China Development Bank, sedangkan 25 persen berasal dari modal para pemegang saham.
Reuters mencatat total biaya proyek mencapai sekitar 7,3 miliar dolar AS setelah mengalami kenaikan biaya selama proses pembangunan. Selain persoalan pembiayaan, proyek tersebut sebelumnya menghadapi hambatan pembebasan lahan dan keterlambatan pembangunan pada masa pandemi.
Pembahasan restrukturisasi kewajiban Whoosh sendiri telah berlangsung selama beberapa bulan. Pada Selasa, 7 April 2026, Dony menyatakan pembahasan antara Danantara dan Menteri Keuangan mengenai restrukturisasi telah mencapai tahap final dan tinggal menyelesaikan proses formal.
Menteri Keuangan kemudian menyampaikan pada April bahwa pembicaraan mengenai penyelesaian pembiayaan proyek telah selesai dan pemerintah Indonesia telah mengomunikasikan perkembangannya kepada pihak China. Namun, rincian kesepakatan saat itu belum dibuka kepada publik.
Pengambilalihan 60 persen saham KCIC oleh lembaga di bawah Kementerian Keuangan menjadi perubahan penting dalam tata kelola proyek Whoosh. Selama ini, saham Indonesia berada dalam konsorsium BUMN sehingga beban finansial proyek turut memengaruhi perusahaan negara yang menjadi pemegang saham.
Pemerintah kini masih perlu menjelaskan sejumlah aspek teknis, terutama lembaga yang akan menerima saham, sumber dana pembayaran kewajiban, skema hubungan dengan kreditur, serta struktur pengelolaan KCIC setelah transaksi selesai.
Hingga Jumat, 7 Agustus 2026, belum ditemukan pengumuman pemerintah yang mengubah rencana pengambilalihan 60 persen saham tersebut. Target penyelesaian transaksi tetap mengacu pada keterangan Danantara, yakni paling lambat pertengahan September 2026.
