Krisis Air Bersih Meluas di Maros, 6.700 Warga Terdampak Kekeringan

CERITANEGERI,MAKASSAR — Krisis air bersih meluas di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, seiring menguatnya musim kemarau. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Maros mencatat lebih dari 6.700 warga terdampak, sementara empat kecamatan masuk kategori zona merah kekeringan.

Pada Kamis, 6 Agustus 2026, Pemerintah Kabupaten Maros menetapkan Kecamatan Lau, Bontoa, Maros Baru, dan Marusu sebagai wilayah paling rawan. Sebagian besar kawasan tersebut berada di wilayah pesisir yang setiap tahun menghadapi keterbatasan pasokan air bersih saat kemarau.

Wakil Bupati Maros Muetazim Mansyur mengatakan penetapan zona merah didasarkan pada tingkat kebutuhan air masyarakat. Sejumlah wilayah lain, termasuk Turikale, Tanralili, dan Mandai, ditempatkan dalam kategori zona kuning dan tetap menjadi perhatian pemerintah daerah.

Para camat diminta berkoordinasi dengan BPBD Maros agar distribusi air dapat menjangkau seluruh permukiman yang membutuhkan. Pemerintah daerah juga melibatkan perusahaan dan sejumlah pihak melalui program tanggung jawab sosial untuk memperkuat pasokan air.

Upaya penanganan turut dilakukan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Maros. Hingga awal Agustus 2026, PMI telah menyalurkan sekitar 108.000 liter air bersih kepada warga terdampak kekeringan.

Distribusi diprioritaskan ke Kecamatan Bontoa dan Maros Baru. Di Bontoa, bantuan telah menjangkau Desa Binanga Sangkara, Cambayya, Tunikamaseang, dan Suli-suli. Penyaluran ke Maros Baru mulai dilakukan pada Minggu, 2 Agustus 2026.

Ketua Harian PMI Maros Suryadi Ningrat mengatakan distribusi air telah berjalan sejak 28 Juni 2026. PMI menyalurkan sekitar 10.000 liter air dalam setiap distribusi dan kini turun hampir setiap hari karena permintaan masyarakat terus bertambah.

“Sekarang hampir setiap hari kami turun,” kata Suryadi.

Penyaluran sempat terkendala keterbatasan armada karena PMI harus menggunakan kendaraan tangki milik pihak lain. Distribusi mulai berjalan lebih lancar setelah PMI Maros memiliki armada tangki sendiri.

Selain memenuhi kebutuhan darurat, Pemkab Maros menyiapkan langkah jangka panjang dengan mengoptimalkan rumah pendorong atau booster di Tangkuru. Fasilitas tersebut direncanakan membantu mengalirkan air dari Instalasi Pengolahan Air Bantimurung menuju kawasan pesisir.

Kapasitas mesin pendorong masih perlu ditingkatkan agar aliran air dapat menjangkau wilayah yang lebih jauh, termasuk kawasan Bontobahari.

Ancaman kekeringan tidak hanya terjadi di Maros. Hasil asesmen BPBD Kota Makassar sebelumnya memperkirakan sekitar 53.000 warga di enam kecamatan berpotensi terdampak. Sekitar separuhnya telah merasakan dampak langsung, terutama masyarakat yang mengandalkan air tanah dan belum terjangkau jaringan air perpipaan.

Kondisi kemarau juga mulai mengancam sektor pertanian di Kabupaten Wajo. Data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Wajo yang dikutip sejumlah media menyebut sekitar 9.851 hektare sawah menghadapi risiko gagal panen atau puso. Pemerintah daerah melalui dinas terkait menyiapkan 161 unit sumur bor di kawasan pertanian rawan kekeringan untuk menjaga pasokan air.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperkirakan puncak musim kemarau berlangsung pada Agustus dan September 2026. Hingga pertengahan Juli, sekitar 54,5 persen wilayah daratan Indonesia telah memasuki musim kemarau, sedangkan hujan dengan intensitas tinggi diperkirakan baru meningkat secara bertahap pada Oktober hingga November.

BMKG Wilayah IV Makassar juga telah mengingatkan petani di Sulawesi Selatan untuk memetakan kawasan yang rawan krisis air serta mempertimbangkan penggunaan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering. Kekeringan berkepanjangan dapat menekan ketersediaan air rumah tangga sekaligus mengganggu kebutuhan irigasi pertanian.

Pemkab Maros bersama BPBD, PMI, pemerintah kecamatan, dan pihak terkait akan melanjutkan distribusi air bersih ke wilayah terdampak. Pemantauan terhadap sumber air dan kebutuhan masyarakat juga dilakukan untuk mengantisipasi meluasnya krisis selama puncak musim kemarau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *