Jelajah Sampah Makassar Tuntas di 14 Kecamatan, 1,5 Ton Sampah Jadi Bahan Evaluasi
CERITANEGERI,MAKASSAR — Rangkaian Jelajah Sampah Makassar menuntaskan pelaksanaan yang dilaporkan di 14 kecamatan dengan mengumpulkan 1.506,22 kilogram sampah. Hasil penimbangan memperlihatkan sampah residu masih menjadi komponen terbesar, sekaligus memperkuat dorongan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar agar pemilahan tidak berhenti setelah program selesai.
Titik terakhir Jelajah Sampah Makassar digelar di Kecamatan Tamalanrea, Jalan Bumi Tamalanrea Permai, pada Minggu, 16 Agustus 2026. Program tersebut telah berlangsung sejak akhir Juni dan dikemas sebagai rangkaian edukasi serta aksi lingkungan bersama masyarakat.
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin hadir dalam kegiatan penutup bersama Ketua Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar sekaligus Ketua TP PKK Makassar Melinda Aksa dan Kepala DLH Makassar Helmy Budiman. Pemerintah kecamatan, kelurahan, RT/RW, kader Posyandu, kader KB, komunitas, hingga masyarakat juga dilibatkan sepanjang rangkaian program.
Helmy mengatakan Jelajah Sampah dirancang sebagai kegiatan edukatif dan kolaboratif. Warga tidak hanya diajak membersihkan lingkungan, tetapi juga mengenali jenis sampah yang dihasilkan dan mempelajari cara mengolahnya sejak dari rumah.
Jelajah Sampah Makassar Catat 1.506 Kilogram Sampah
Rekapitulasi DLH menunjukkan total sampah yang terkumpul dalam rangkaian tersebut mencapai 1.506,22 kilogram. Jumlah itu terdiri atas 427,02 kilogram sampah organik, 514,56 kilogram anorganik, dan 564,64 kilogram residu.
Komposisi itu berbeda di setiap wilayah. Menurut Helmy, perbedaan tersebut memperlihatkan karakter timbulan sampah yang tidak sama antarkecamatan dan menjadi pengingat bahwa material yang masih dapat dimanfaatkan perlu dipisahkan sebelum bercampur menjadi residu.
Kecamatan Mamajang, misalnya, mencatat 394,06 kilogram sampah selama kegiatan. Dari jumlah tersebut, 338,4 kilogram merupakan residu sehingga menjadi komponen yang paling dominan.
Berbeda dengan Mamajang, Kecamatan Tamalate mencatat 220,48 kilogram sampah dengan anorganik mencapai 131 kilogram. Sementara Kecamatan Ujung Tanah mengumpulkan 196 kilogram yang terdiri atas 76,6 kilogram organik, 109,2 kilogram anorganik, dan 10,2 kilogram residu.
Data tersebut menjadi bagian penting dari evaluasi pengelolaan sampah karena menunjukkan kebutuhan penanganan dapat berbeda di masing-masing wilayah. Daerah dengan residu tinggi membutuhkan penguatan pemilahan, sementara banyaknya sampah anorganik menunjukkan masih ada material yang dapat diarahkan ke jalur daur ulang dan bank sampah.
Organik Diolah, Anorganik Masuk Bank Sampah
Jelajah Sampah tidak hanya melakukan penimbangan. DLH memperkenalkan alur berbeda untuk setiap jenis sampah agar seluruh timbulan tidak langsung berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa.
Sampah organik diarahkan untuk diolah menjadi kompos atau dimanfaatkan melalui fasilitas pengolahan yang tersedia. Dalam sesi edukasi, warga diperkenalkan dengan komposter, biopori, pemanfaatan maggot untuk sampah organik, hingga pembuatan eco-enzyme.
Sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomi diarahkan menuju Bank Sampah atau Bank Sampah Unit. Dengan cara tersebut, botol, kardus, plastik tertentu, logam, dan material lain yang masih dapat dimanfaatkan tidak perlu bercampur dengan residu.
Adapun residu menjadi bagian yang diteruskan kepada DLH untuk penanganan lebih lanjut. Kebijakan ini sejalan dengan perubahan sistem persampahan Makassar yang sejak 1 Agustus 2026 menempatkan TPA Tamangapa sebagai lokasi akhir bagi sampah yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan kembali.
Pemerintah Kota Makassar melalui Instruksi Wali Kota Nomor 1 dan Nomor 3 Tahun 2026 juga mengarahkan rumah tangga, kantor, sekolah, RT/RW, dan pelaku usaha melakukan pemilahan sejak dari sumber. Sampah dibedakan menjadi organik, anorganik, B3, dan residu.
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidayat sebelumnya mendukung kebijakan tersebut. Saat meninjau TPA Tamangapa pada 5 Agustus, ia menyebut pengelolaan dari sumber sebagai pola yang tepat seiring penghentian praktik open dumping.
Edukasi Tidak Berhenti pada Aksi Bersih-Bersih
Sepanjang pelaksanaan, Jelajah Sampah memadukan kegiatan di dalam dan luar ruangan. Selain pelatihan teknis, rangkaian kegiatan menghadirkan diskusi persampahan, pameran produk daur ulang, aksi plogging, dan penimbangan sampah.
Model tersebut digunakan agar warga tidak hanya mendengar sosialisasi, tetapi dapat mencoba langsung cara memilah dan mengolah sampah. Peserta berasal dari berbagai kelompok, mulai dari pelajar, komunitas, kader masyarakat hingga warga umum.
Munafri menegaskan persoalan sampah tidak dapat diselesaikan pemerintah sendirian. Ia meminta keterlibatan masyarakat dimulai dari rumah tangga dengan mengurangi timbulan, memilah berdasarkan jenisnya, mengolah sampah yang masih memiliki manfaat, serta menjaga kebersihan lingkungan masing-masing.
Ia juga meminta agar berakhirnya rangkaian Jelajah Sampah tidak menjadikan kegiatan tersebut berhenti sebagai agenda seremonial. Pemerintah ingin kebiasaan yang diperkenalkan selama program berubah menjadi praktik sehari-hari di lingkungan masyarakat.
“Jelajah Sampah titik ke-14 ini jangan berhenti sebagai kegiatan seremonial,” kata Munafri. Ia mendorong lahirnya gerakan yang berkelanjutan untuk mengurangi, memilah, mengolah, dan mengelola sampah dari lingkungan masing-masing.
Data Tiap Wilayah Jadi Bagian Evaluasi
Berakhirnya rangkaian kegiatan membuat perhatian berikutnya bergeser dari jumlah titik yang dikunjungi menuju keberlanjutan pengelolaan di tingkat wilayah.
DLH melihat perbedaan komposisi sampah sebagai gambaran bahwa persoalan setiap kecamatan tidak selalu sama. Ada wilayah yang menghasilkan residu dalam jumlah besar, sementara wilayah lain mempunyai porsi material anorganik yang cukup tinggi.
Kondisi tersebut dapat menjadi dasar penguatan fasilitas yang sesuai, mulai dari pengomposan dan pengolahan organik hingga pengembangan Bank Sampah. DLH juga terus mendorong sistem pengelolaan yang tidak lagi mengandalkan seluruh sampah diangkut menuju TPA.
Di tingkat rumah tangga, aturan resmi Pemkot meminta warga menyediakan wadah terpilah dan mendorong penggunaan Bank Sampah Unit. Sampah anorganik dapat disetorkan ke BSU atau fasilitas daur ulang, sedangkan sampah organik dapat diolah melalui komposting, maggot, maupun metode lain yang tersedia.
Perubahan tersebut menjadi penting karena residu masih tercatat sebagai kelompok terbesar dalam rekap Jelajah Sampah. Semakin banyak material organik dan anorganik yang dapat dipisahkan serta dimanfaatkan, semakin sedikit sampah yang harus diteruskan sebagai residu ke sistem pengangkutan akhir.
Gerakan Pilah dari Rumah Jadi Tahap Berikutnya
Setelah kegiatan lapangan berakhir, pemerintah belum merinci dalam laporan penutupan mengenai jadwal putaran baru Jelajah Sampah. Pesan yang disampaikan Pemkot justru menekankan keberlanjutan praktik pemilahan di rumah, lingkungan RT/RW, serta fasilitas pengolahan sampah.
DLH menempatkan gerakan tersebut sebagai bagian dari upaya menuju target Makassar Bebas Sampah 2029. Pemerintah berharap edukasi yang telah dibawa ke berbagai wilayah dapat diteruskan melalui kebiasaan masyarakat, bukan hanya ketika kegiatan Jelajah Sampah berlangsung.
Bagi warga, perubahan paling sederhana dimulai dengan memisahkan sampah organik, anorganik, B3, dan residu. Sistem tersebut sekaligus menentukan ke mana sampah berikutnya diarahkan: organik menuju pengolahan, anorganik menuju bank sampah, B3 melalui penanganan khusus, dan residu menjadi bagian yang dapat diteruskan menuju TPA.
Rangkaian Jelajah Sampah kini telah selesai pada 14 titik kecamatan yang masuk dalam rekap terbaru. Tantangan berikutnya adalah memastikan pemilahan yang diperkenalkan selama program tetap berjalan ketika kegiatan seremonial dan aksi lapangan telah berakhir.
FAQ Jelajah Sampah Makassar
Berapa sampah yang terkumpul dalam Jelajah Sampah Makassar?
DLH Makassar mencatat 1.506,22 kilogram sampah dalam rekap 14 kecamatan. Jumlah itu terdiri atas 427,02 kilogram organik, 514,56 kilogram anorganik, dan 564,64 kilogram residu.
Di mana titik terakhir Jelajah Sampah Makassar 2026?
Titik terakhir yang dilaporkan berlangsung di Kecamatan Tamalanrea, tepatnya kawasan Bumi Tamalanrea Permai, pada Minggu, 16 Agustus 2026.
Ke mana sampah hasil pemilahan diarahkan?
Sampah organik diarahkan ke pengomposan atau fasilitas pengolahan, sedangkan anorganik yang masih bernilai disalurkan ke Bank Sampah. Residu diteruskan kepada DLH untuk penanganan lebih lanjut.
Apakah TPA Tamangapa masih menerima semua jenis sampah?
Tidak. Mulai 1 Agustus 2026, kebijakan Pemkot Makassar mengarahkan TPA Tamangapa hanya menerima sampah residu. Sampah organik, anorganik, dan B3 harus dipilah serta ditangani sesuai jenisnya sebelum sampai ke TPA.
