CERITANEGERI, MANILA — Pemerintah Filipina melaporkan sejumlah nelayan terluka akibat aksi agresif kapal penjaga pantai China di perairan sengketa Laut China Selatan, pada Jumat (12/12/2025). Insiden tersebut terjadi setelah kapal China menyemprotkan meriam air bertekanan tinggi dan melakukan manuver penghalangan terhadap kapal nelayan Filipina.
Berdasarkan laporan otoritas penjaga pantai Filipina, insiden ini melibatkan sekitar 20 kapal nelayan Filipina yang sedang beroperasi di sekitar Sabina Shoal, wilayah yang menjadi bagian dari sengketa maritim antara Filipina dan China.
Penjaga pantai Filipina menyebut sedikitnya tiga warga Filipina mengalami luka-luka, sementara dua kapal nelayan mengalami kerusakan akibat tindakan tersebut. Selain penyemprotan meriam air, personel penjaga pantai China yang menggunakan perahu karet kecil diduga sengaja memutus tali jangkar sejumlah kapal nelayan.
Tindakan itu menyebabkan kapal-kapal nelayan terombang-ambing di tengah arus kuat dan gelombang tinggi, sehingga membahayakan keselamatan awak kapal.
Dua kapal penjaga pantai Filipina segera dikerahkan untuk memberikan pertolongan kepada para nelayan di lokasi kejadian. Namun, proses evakuasi sempat terhambat karena kapal-kapal penjaga pantai China melakukan manuver penghalangan berisiko tinggi.
Juru bicara penjaga pantai Filipina, Komodor Jay Tarriela, mengungkapkan bahwa salah satu kapal penjaga pantai China bahkan mendekat hingga jarak sekitar 35 yard dari kapal Filipina pada malam hari.
“Penjaga pantai China kini menargetkan nelayan biasa yang merupakan warga sipil. Tindakan ini jelas membahayakan nyawa mereka,” ujar Tarriela, Sabtu (13/12/2025).
Meski menghadapi gangguan, penjaga pantai Filipina akhirnya berhasil menjangkau para nelayan pada Sabtu pagi (13/12/2025). Para korban luka mendapatkan pertolongan medis darurat, sementara pasokan logistik turut disalurkan untuk memastikan keselamatan para awak kapal.
Pemerintah Filipina mendesak China untuk mematuhi standar perilaku internasional di laut serta mengutamakan keselamatan jiwa, khususnya warga sipil yang mencari nafkah di wilayah perairan tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, otoritas China belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden tersebut. Namun sebelumnya, Beijing berulang kali menegaskan akan mempertahankan klaim wilayahnya di Laut China Selatan.
Laut China Selatan merupakan jalur perdagangan global yang strategis dan telah lama menjadi sumber ketegangan geopolitik. Meski putusan arbitrase internasional tahun 2016 menyatakan klaim China tidak sah berdasarkan Konvensi PBB tentang Hukum Laut 1982, China menolak putusan tersebut dan tetap mempertahankan klaimnya.
Selain Filipina dan China, sejumlah negara lain seperti Vietnam, Malaysia, Brunei, dan Taiwan juga terlibat dalam sengketa wilayah di kawasan ini. Sementara itu, Amerika Serikat kembali menegaskan komitmennya untuk mendukung Filipina sebagai sekutu perjanjian apabila terjadi serangan bersenjata terhadap personel atau aset Filipina di wilayah sengketa.