CERITANEGERI, JAKARTA – Pembangunan pabrik mobil listrik BYD di Subang, Jawa Barat, memasuki tahap akhir dengan progres mencapai 90 persen. Hal ini menjadikan proyek senilai Rp 11,2 triliun itu sebagai salah satu investasi otomotif terbesar yang segera memasuki fase produksi.
Informasi tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam pembukaan Rapimnas Kadin 2025, Selasa (2/12/2025).
“BYD sudah 90 persen, investasinya Rp 11,2 triliun dengan kapasitas produksi 150.000 unit per tahun,” ujar Airlangga.
Airlangga menegaskan bahwa Indonesia kini semakin menarik bagi pabrikan global dalam pengembangan kendaraan listrik. Selain BYD, sejumlah raksasa otomotif memperkuat komitmen mereka:
Chery menambah investasi Rp 5,2 triliun untuk memperluas lini produksi hingga 2030.
Wuling menggelontorkan Rp 9,3 triliun untuk otomotif dan Rp 7,5 triliun untuk pabrik baterai.
VinFast dari Vietnam menanamkan dana Rp 3,7 triliun dengan kapasitas hingga 50.000 unit per tahun.
Hyundai menyiapkan tambahan investasi jangka panjang senilai Rp 20 triliun.
Meski investasi kendaraan listrik berkembang pesat, Airlangga menegaskan bahwa pasar mobil bermesin bensin (ICE) masih mendominasi sekitar 80 persen pangsa domestik.
Kementerian Perindustrian sebelumnya mencatat BYD dan VinFast sebagai peserta program insentif KBLBB yang membangun fasilitas produksi baru. Pada pertengahan 2025, BYD tercatat baru mencapai 45 persen, sedangkan VinFast sudah 77 persen per Agustus 2025.
Namun, perkembangan terbaru memastikan percepatan signifikan pada proyek BYD di Subang.
Terpisah, Head of PR and Government Relation PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan, menyatakan bahwa proyek berjalan sesuai jadwal.
“Targetnya proses produksi bisa dimulai awal 2026. Untuk model yang diproduksi, nanti akan kami informasikan. Hitungannya mengacu pada kapasitas baterai, bukan jenis model,” ujarnya.

