Pembuatan kapal Pinisi di Bulukumba, Sulawesi Selatan, ikon Festival Pinisi XVI

Festival Pinisi XVI Dimulai di Bulukumba, Budaya Maritim dan Ekonomi Warga Jadi Sorotan

CERITANEGERI,MAKASSAR — Festival Pinisi XVI dimulai hari ini di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Selama tiga hari, festival tahunan ini menampilkan tradisi bahari, atraksi budaya, hingga pameran UMKM untuk menggerakkan ekonomi warga sekaligus mempromosikan budaya maritim Bulukumba.

Rangkaian Festival Pinisi XVI berlangsung Kamis hingga Sabtu, 15–17 Oktober 2026. Festival tahun ini mengusung tema “Pengembangan Budaya untuk Peningkatan Ekonomi Pariwisata” dan masuk dalam agenda Kharisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata.

Hari pertama, Kamis, 15 Oktober 2026, dibuka dengan tradisi Andingingi di Desa Tambangan, Kecamatan Kajang, pukul 09.00 Wita. Andingingi merupakan ritual adat masyarakat Kajang yang menjadi pembuka rangkaian festival. Pemilihan Kajang sebagai titik awal menegaskan bahwa festival ini tidak hanya menonjolkan kapal, tetapi juga akar budaya masyarakat adat Bulukumba.

Agenda Hari Pertama Festival Pinisi XVI

Setelah Andingingi, perhatian pengunjung bergeser ke Pantai Merpati. Di lokasi ini, Katinting Race Kelas Open digelar pukul 10.00 Wita, disusul Expo UMKM dan Dekranasda yang dibuka mulai pukul 12.00 Wita.

Pukul 14.00 Wita, Karnaval Budaya bergerak di Lapangan Pemuda Bulukumba. Hari pertama ditutup dengan pertunjukan tari massal bertajuk “Spirit of Pinisi” di Pantai Merpati pukul 20.00 Wita.

Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Bulukumba, Hamrina Andi Muri, mengatakan festival ini digelar untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan tradisi masyarakat Bulukumba. Pada saat yang sama, festival diharapkan menggerakkan sektor ekonomi dan pariwisata daerah.

Annyorong Lopi Jadi Sorotan

Pada Jumat, 16 Oktober 2026, kegiatan dimulai pukul 06.00 Wita dengan senam, pemeriksaan kesehatan gratis, dan aksi bersih pantai di Pantai Merpati.

Sorenya, pukul 15.00 Wita, pengunjung dapat menyaksikan Annyorong Lopi di Pantai Panrang Luhu, Desa Bira, Kecamatan Bontobahari. Tradisi mendorong kapal ke laut ini menggambarkan eratnya hubungan masyarakat Bulukumba dengan kehidupan maritim dan warisan pembuatan kapal Pinisi.

Hari terakhir, Sabtu, 17 Oktober 2026, diisi Lomba Perahu Hias di Pantai Merpati pukul 10.00 Wita. Lomba ini biasanya menjadi ajang kreativitas warga pesisir menghias perahu mereka. Festival ditutup pukul 15.00 Wita dengan Pinisi Sailing yang dipusatkan di Kolam Labuh Bulukumba, serta kegiatan Mukbang Ikan di kawasan Pantai Merpati.

Laman resmi pariwisata Indonesia mencantumkan festival ini terbuka untuk umum tanpa tiket masuk.

Warisan Budaya Dunia

Kapal Pinisi bukan sekadar ikon daerah. Seni pembuatan perahu Pinisi di Sulawesi Selatan telah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2017.

Bulukumba, khususnya kawasan Tana Beru dan Bira, dikenal sebagai pusat pembuatan kapal Pinisi. Keterampilan itu diwariskan turun-temurun, dari pemilihan kayu hingga ritual adat yang menyertai setiap tahap pembangunan kapal.

Situs Indonesia Travel menyebut Festival Pinisi XVI juga memperkenalkan ritual pembuatan kapal seperti Songkabala Ribantilang dan Ammosi, serta budaya masyarakat adat Kajang. Wisatawan dapat merasakan langsung pengalaman berlayar dengan Pinisi.

Dorong Ekonomi Warga

Selain sebagai ajang pelestarian budaya, Festival Pinisi XVI dibidik untuk memperbesar perputaran ekonomi lokal. Expo UMKM dan Dekranasda menjadi etalase bagi produk kerajinan, kuliner, dan usaha kecil warga Bulukumba.

Geliat UMKM daerah seperti ini juga sejalan dengan tren pembiayaan di Sulawesi Selatan, di mana kredit perbankan Sulsel mencapai Rp176,30 triliun per Juni 2026, meski literasi keuangan masyarakat masih menjadi pekerjaan rumah.

Kehadiran wisatawan juga diharapkan berdampak pada usaha penginapan, transportasi, hingga pedagang di sekitar lokasi acara di Pantai Merpati dan Bira.

Hamrina berharap Festival Pinisi XVI menjadi momentum untuk memperkuat posisi Bulukumba sebagai destinasi wisata budaya dan maritim unggulan di Sulawesi Selatan.

Pemerintah Kabupaten Bulukumba juga ingin pelestarian budaya tidak berhenti pada seremoni tahunan. Festival diharapkan menjadi penggerak pariwisata yang manfaatnya dirasakan langsung masyarakat.

Persiapan Festival Pinisi XVI telah dimatangkan sejak September. Disparpora Bulukumba menggelar rapat teknis pada Selasa, 22 September 2026, untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan terkoordinasi.

Bagi warga yang berencana datang, pengunjung disarankan memperhatikan jadwal tiap agenda karena lokasinya tersebar di beberapa titik, dari Kajang, Ujung Bulu, hingga Bontobahari. Pemkab Bulukumba sebelumnya juga telah meluncurkan layanan darurat 112 yang dapat dihubungi warga maupun wisatawan bila membutuhkan bantuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *