Serangan Kapal di Selat Hormuz Meningkat, Harga Minyak Brent Bertahan di Atas US$104 per Barel
CERITANEGERI,MAKASSAR — Harga minyak dunia bertahan di atas US$100 per barel setelah serangan terhadap kapal tanker di sekitar Selat Hormuz mencapai tingkat tertinggi sejak perang Iran pecah. Ketegangan di jalur yang sebelum perang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan bahan bakar dunia itu kembali menekan pasar energi global, termasuk negara pengimpor seperti Indonesia.
Pada penutupan perdagangan Jumat, 9 Oktober 2026, harga minyak mentah Brent berjangka ditutup di level US$104,72 per barel, naik 44 sen atau 0,42 persen. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat ditutup di US$91,85 per barel, naik 36 sen, menurut laporan Reuters.
Data Dow Jones Market Data mencatat Brent kontrak Desember menguat US$2,47 atau 2,42 persen sepanjang pekan tersebut. Itu menjadi kenaikan mingguan terbesar sejak pekan yang berakhir 11 September 2026 sekaligus level penutupan tertinggi sejak 28 September 2026. Sehari sebelumnya, Kamis, 8 Oktober 2026, Brent melonjak sekitar 4 persen dan ditutup di US$104,28 per barel.
Pada awal perdagangan Asia, Senin pagi, 12 Oktober 2026, Brent kembali menguat 0,4 persen ke US$105,10 per barel, menurut laporan The Straits Times. Kenaikan itu dipicu kekhawatiran meluasnya konflik setelah kelompok Houthi kembali menyerang bandara utama Arab Saudi di Riyadh pada Minggu, 11 Oktober 2026, sehari setelah serangan yang menewaskan 12 orang.
Meski tinggi, harga tersebut masih sekitar 11,5 persen di bawah puncak tahun ini sebesar US$118,35 per barel yang tercatat pada Selasa, 31 Maret 2026.
Serangan Kapal Kian Sering
Joint Maritime Information Center (JMIC), pusat informasi maritim yang dipimpin Angkatan Laut AS, dalam pembaruan saran keamanan tertanggal 8 Oktober 2026 mencatat enam insiden di Selat Hormuz antara 3 dan 6 Oktober 2026. Lima kapal niaga, termasuk kapal tanker dan pengangkut gas alam cair (LNG), terkena proyektil atau pesawat nirawak (UAV) saat melintas. Satu kapal lainnya dihubungi lewat radio oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan diancam akan menjadi sasaran jika tidak berbalik arah.
Salah satu insiden terberat menimpa kapal tanker ON PEACE. Menurut Kementerian Luar Negeri India yang dikutip JMIC, kapal itu terkena proyektil tak dikenal saat keluar dari Selat Hormuz pada Senin, 5 Oktober 2026, dan 12 awaknya terluka serta telah dievakuasi.
Serangan juga menjangkau perairan Teluk di luar selat. Pada Rabu, 7 Oktober 2026, sebuah kapal tanker diserang tiga UAV sekitar 51 mil laut dari pesisir Qatar. Kebakaran di ruang mesin berhasil dipadamkan, satu awak dilaporkan terluka, dan kapal dapat melanjutkan pelayaran. JMIC menyebut insiden ini sebagai serangan terkonfirmasi pertama di dalam Teluk Arab sejak 9 September 2026.
Serangan berlanjut pada akhir pekan. Badan keamanan maritim Inggris UKMTO melaporkan sebuah kapal tanker yang keluar dari Selat Hormuz terkena proyektil tak dikenal di lambung kiri pada Minggu, 11 Oktober 2026, sekitar pukul 12.00 UTC. Seluruh awak dilaporkan selamat dan otoritas masih menyelidiki insiden tersebut.
Sebelumnya, IRGC mengklaim sebuah kapal tanker minyak raksasa menabrak ranjau laut dan terbakar pada Sabtu malam, 10 Oktober 2026, karena memakai rute yang tidak diizinkan Iran, seperti dilaporkan Al Jazeera. Klaim itu belum dikonfirmasi pihak independen. Pada Minggu dini hari, Komando Pusat AS (CENTCOM) juga melumpuhkan sebuah kapal kargo berbendera Panama di Teluk Oman yang dinilai berupaya menembus blokade AS terhadap pelabuhan Iran.
JMIC menetapkan tingkat ancaman di Selat Hormuz pada level “parah” (severe). Lembaga itu menilai aktivitas IRGC berupa serangan, percobaan serangan, pengintaian dengan UAV, dan panggilan radio terhadap kapal yang melintas menunjukkan niat Iran untuk mempertahankan tekanan di jalur pelayaran utama.
Data lalu lintas yang dihimpun JMIC juga berbeda-beda. Data pelacakan independen menunjukkan jumlah kapal yang melintas hanya satu digit di kedua arah, sedangkan data Naval Cooperation and Guidance for Shipping (NCAGS) AS mencatat rata-rata sekitar 30 pelintasan kapal per hari dalam 96 jam terakhir periode laporan.
Klaim yang Saling Bertentangan
Ketegangan terjadi di tengah perang yang dimulai dengan serangan besar-besaran Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Sejak itu, kapal-kapal di Teluk dan Selat Hormuz berulang kali menjadi sasaran, sementara AS memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Teheran dan Washington menyampaikan klaim yang berseberangan. Penasihat Komandan IRGC, Mohammadreza Naqdi, kepada kantor berita Fars menyatakan Iran akan menutup jalur yang dianggapnya ilegal, merujuk pada lintasan di sisi selatan dekat pesisir Oman. “Selat Hormuz tertutup, dan angkatan bersenjata Republik Islam Iran memegang kendali penuh atasnya,” katanya, sebagaimana dikutip The Guardian.
Sebaliknya, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut Iran telah kehilangan kendali atas selat tersebut. Menurutnya, volume minyak yang keluar dari kawasan itu kini hampir sama dengan sebelum konflik dimulai.
Pada Kamis, 8 Oktober 2026, Presiden AS Donald Trump menyatakan Washington tengah melakukan “diskusi produktif” dengan Iran dan tidak akan menyerang negara itu sebelum pemilihan sela AS pada 3 November 2026. Namun, ia menegaskan blokade terhadap Iran tetap berlaku penuh.
Pada hari yang sama, kantor berita Iran Tasnim melaporkan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan Teheran sedang meninjau tanggapan AS atas usulan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam tujuh hari. Pada Jumat, 9 Oktober 2026, AS juga menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah individu, jaringan, dan 17 kapal yang dinilai mengangkut minyak mentah, produk minyak, dan petrokimia Iran, menurut Reuters.
Biaya Angkut dan Harga Fisik Melambung
Gangguan di Hormuz tidak hanya tecermin pada harga minyak berjangka. CNN melaporkan, mengutip S&P Global Platts, harga Dated Brent, yakni harga minyak fisik untuk pengiriman segera, mencapai US$135,74 per barel pada Kamis, 8 Oktober 2026, jauh di atas harga berjangka.
Biaya sewa kapal tanker raksasa (VLCC) untuk rute Teluk juga melonjak. Mengutip lembaga pialang kapal Clarksons, CNN menyebut tarif sewa VLCC di rute tersebut mencapai sekitar US$1,6 juta per hari.
Pasar juga dibayangi faktor lain di luar Timur Tengah. Badai Isaias di Teluk Meksiko memaksa produsen menghentikan sekitar 1,3 juta barel per hari atau 62,9 persen produksi minyak lepas pantai AS per Kamis, 8 Oktober 2026, menurut data otoritas mineral kelautan AS yang dikutip Reuters. Di sisi lain, rencana China melanjutkan ekspor bahan bakar olahan seusai libur Pekan Emas sempat menahan kenaikan harga.
IEA Percepat Pelepasan Stok, OPEC+ Tahan Produksi
Dari sisi kebijakan, negara-negara anggota Badan Energi Internasional (IEA) dalam pertemuan Rabu, 7 Oktober 2026, sepakat mempercepat pelepasan stok minyak darurat yang diumumkan dalam Aksi Kolektif Maret 2026 dan memprioritaskan pelepasan solar.
Menurut pernyataan resmi Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol, sekitar 325 juta barel telah dilepas ke pasar. Sisa komitmen yang belum terealisasi akan menambah sekitar 100 juta barel. Anggota IEA masih memiliki stok darurat milik publik sekitar 1,1 miliar barel, termasuk lebih dari 200 juta barel solar.
“IEA siap melepas lebih banyak stok ini ke pasar jika dan saat diperlukan,” kata Birol dalam pernyataan tersebut. Situasi ini akan kembali dibahas dalam rapat Dewan Pengurus IEA yang, menurut Euronews, dijadwalkan pada Kamis, 15 Oktober 2026.
Sementara itu, tujuh negara OPEC+, yakni Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman, dalam pertemuan virtual Minggu, 4 Oktober 2026, memutuskan mempertahankan tingkat produksi wajib September 2026 untuk November 2026. Keputusan ini memperpanjang jeda kenaikan produksi untuk bulan kedua berturut-turut. Pertemuan berikutnya dijadwalkan pada 1 November 2026.
Administrasi Informasi Energi AS (EIA) dalam Short-Term Energy Outlook Oktober 2026 yang dirilis Selasa, 6 Oktober 2026, mencatat harga spot Brent rata-rata US$114 per barel pada September 2026. EIA memperkirakan Brent rata-rata US$105 per barel pada kuartal IV 2026, lalu turun ke rata-rata US$84 per barel pada 2027 seiring pulihnya arus minyak dan stok global.
Dampak bagi Indonesia
Di dalam negeri, pemerintah menyatakan gejolak Timur Tengah telah memengaruhi sumber pasokan bahan bakar minyak (BBM). Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Laode Sulaeman mengatakan Indonesia kehilangan sekitar 25 persen sumber impor sejak konflik terjadi.
“Sejak terjadinya konflik di Timur Tengah, kita kehilangan 25% sumber impor,” kata Laode dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah 2026 yang digelar Kementerian Dalam Negeri secara daring, Senin, 5 Oktober 2026.
Menurut Laode, pemerintah bersama Pertamina kini mencari pasokan langsung ke negara-negara yang memiliki kelebihan stok karena mekanisme lelang pengadaan relatif sepi peserta. Ia mengakui cara ini berpotensi membuat harga beli lebih tinggi.
Laode menegaskan dua prioritas pemerintah, yakni menjaga harga BBM subsidi jenis solar dan bensin tetap, serta menjaga ketahanan stok BBM nasional di kisaran 18 hingga 20 hari.
“Jadi, ada dua hal ini, pertama adalah subsidi di solar dan bensin tetap kita jaga tetap, yang kedua adalah ketahanan stok 18-20 hari itu tetap ada,” tegasnya.
Kenaikan harga minyak dunia juga sudah tecermin pada Harga Minyak Mentah Indonesia (ICP). Kementerian ESDM menetapkan rata-rata ICP Agustus 2026 sebesar US$89,43 per barel, naik US$7,75 dari Juli 2026, dengan menyebut ketegangan di Selat Hormuz dan Laut Merah sebagai salah satu pemicunya. Hingga Senin pagi, 12 Oktober 2026, penetapan ICP September 2026 belum diumumkan di kanal resmi Kementerian ESDM.
Ke depan, arah harga minyak akan sangat bergantung pada keamanan pelayaran di Selat Hormuz, jawaban Iran atas tanggapan AS terkait usulan pembukaan selat, serta realisasi pelepasan stok darurat negara-negara anggota IEA.
