Kepala OJK Sulselbar Moch Muchlasin di media briefing kredit perbankan Sulsel

Kredit Perbankan Sulsel Capai Rp176,30 Triliun, OJK Ingatkan Literasi Keuangan Masih Tertinggal

CERITANEGERI,MAKASSAR — Penyaluran kredit perbankan di Sulawesi Selatan (Sulsel) tumbuh 5,27 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp176,30 triliun pada posisi Juni 2026. Di saat akses layanan keuangan kian meluas, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan bahwa pemahaman masyarakat terhadap produk keuangan belum bergerak secepat itu.

Data tersebut dipaparkan Kepala OJK Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar), Moch Muchlasin, dalam media briefing perkembangan sektor jasa keuangan periode data Juni 2026 di Kantor OJK Sulselbar, Jalan Sultan Hasanuddin, Makassar, Senin, 3 Agustus 2026.

Pada periode yang sama tahun lalu, kredit perbankan di Sulsel tercatat Rp167,47 triliun. Selain kredit, total aset perbankan tumbuh 5,99 persen menjadi Rp214,32 triliun. Dana pihak ketiga (DPK) juga naik 5,71 persen, dari Rp141,69 triliun pada Juni 2025 menjadi Rp149,77 triliun.

“Kinerja perbankan di Sulawesi Selatan pada posisi Juni 2026 masih menunjukkan pertumbuhan positif. Total aset, DPK, dan kredit perbankan tumbuh masing-masing sebesar 5,99 persen, 5,71 persen, dan 5,27 persen secara year on year,” kata Muchlasin.

Tabungan masih menjadi tumpuan simpanan masyarakat dengan porsi 61,45 persen dari total DPK. Sisanya berupa deposito sebesar 22,68 persen dan giro 15,87 persen.

Kredit Konsumsi Tumbuh Lebih Cepat

Dari sisi penggunaan, kredit produktif masih memegang porsi terbesar, yakni 52,28 persen dari total kredit, dengan pertumbuhan 2,36 persen. Kredit konsumsi berpangsa 47,72 persen, tetapi tumbuh lebih cepat, yaitu 8,66 persen secara tahunan.

Sektor perdagangan besar dan eceran tetap menjadi penerima kredit terbesar dengan nilai Rp37,96 triliun atau 21,53 persen dari total kredit. Meski demikian, kredit ke sektor ini tercatat turun tipis 1,24 persen dibanding tahun sebelumnya.

Sebaliknya, kredit ke sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan tumbuh 11,23 persen menjadi Rp16,51 triliun.

Secara wilayah, Kota Makassar masih menjadi pusat penyaluran kredit dengan nilai Rp83,40 triliun. Di luar ibu kota provinsi, penyaluran terbesar tercatat di Kota Palopo sebesar Rp10,42 triliun, Kabupaten Bone Rp6,20 triliun, dan Kota Parepare Rp6,12 triliun. Kredit di Bone tumbuh 8,54 persen.

Intermediasi Tinggi, Risiko Tetap Dijaga

Fungsi intermediasi perbankan di Sulsel tergolong tinggi. Rasio kredit terhadap dana yang dihimpun atau loan to deposit ratio (LDR) mencapai 117,71 persen. Dengan kata lain, nilai kredit yang disalurkan bank di Sulsel lebih besar dibanding DPK yang dihimpun di daerah ini.

Di sisi lain, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) berada di level 3,70 persen.

“Ini artinya, perbankan di Sulsel tetap mampu menyalurkan pembiayaan untuk mendukung aktivitas ekonomi dengan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dan pengelolaan risiko yang memadai,” ujar Muchlasin.

Perbankan syariah tumbuh lebih kencang. OJK mencatat aset perbankan syariah di Sulsel naik 30,80 persen menjadi Rp23,89 triliun, sementara penyaluran pembiayaannya tumbuh 24,28 persen menjadi Rp19,35 triliun.

Kinerja perbankan itu bergerak seiring perekonomian daerah. Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel mencatat ekonomi Sulsel tumbuh 5,59 persen (yoy) pada triwulan II 2026. Data perkembangan sektor jasa keuangan juga dapat ditelusuri melalui kanal data dan statistik OJK.

Akses Meluas, Pemahaman Belum Mengimbangi

Di balik angka pertumbuhan itu, OJK menyoroti jarak antara akses dan pemahaman. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, indeks inklusi keuangan Sulsel mencapai sekitar 94 persen, sedangkan indeks literasinya sekitar 61 persen.

Selisih sekitar 33 persen itu menggambarkan warga yang sudah memakai layanan keuangan, seperti tabungan, pinjaman, atau asuransi, tetapi belum sepenuhnya memahami manfaat, biaya, dan risikonya.

“Artinya, ada masyarakat yang sudah menggunakan jasa keuangan, tetapi belum memahami produk yang digunakan,” ujar Muchlasin saat membuka Financial Expo (FIN Expo) Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2026 di Atrium Trans Studio Mall (TSM) Makassar, Sabtu, 3 Oktober 2026.

Menurut OJK, kesenjangan ini membuat sebagian masyarakat lebih rentan terhadap persoalan keuangan, mulai dari beban utang yang tak terkelola hingga investasi bodong dan pinjaman digital ilegal. Risiko serupa tergambar dari ratusan ribu aduan penipuan yang diterima Satgas PASTI OJK.

Untuk mempersempit jarak tersebut, OJK mencatat telah menggelar 198 kegiatan literasi keuangan sepanjang triwulan II 2026.

FIN Expo Catat Transaksi Rp42,9 Miliar

FIN Expo BIK 2026 diselenggarakan OJK Sulselbar bersama Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan (FKIJK) Sulselbar pada 2–4 Oktober 2026 dengan tema “Akses Keuangan Merata, Ekonomi Berdaya, Masyarakat Sejahtera”. Sebanyak 28 booth hadir, di antaranya OJK, Bank Indonesia (BI), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Pembukaan kegiatan dihadiri Wakil Gubernur Sulsel Fatmawati Rusdi dan Ketua DPRD Sulsel Andi Rachmatika Dewi.

“Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menyambut baik pelaksanaan FIN EXPO BIK 2026 sebagai bagian dari upaya bersama memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan. Kolaborasi antara pemerintah, OJK, dan Industri Jasa Keuangan menjadi penting agar inklusi keuangan dapat memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat,” ujar Fatmawati.

Menurutnya, peningkatan inklusi perlu berjalan beriringan dengan literasi agar masyarakat mampu memakai produk dan layanan keuangan secara bijak serta terhindar dari berbagai risiko.

Ketua Panitia FIN Expo 2026 yang juga Regional CEO BRI Regional Office 15 Makassar, Riza Pahlevi, berharap kegiatan ini mendekatkan industri jasa keuangan dengan warga.

“Melalui kegiatan ini kami berharap masyarakat semakin mengenal industri jasa keuangan, memahami produk yang tersedia, serta semakin bijak dalam melakukan perencanaan dan pengelolaan keuangan,” kata Riza.

Hingga kegiatan berakhir, OJK Sulselbar mencatat 26.372 pengunjung atau peserta. Sebanyak 1.689 rekening atau akun produk jasa keuangan dibuka maupun diaktivasi, dengan total nominal transaksi Rp42.945.341.223 atau sekitar Rp42,9 miliar.

“FIN EXPO BIK 2026 menjadi ruang kolaborasi untuk mendekatkan industri jasa keuangan dengan masyarakat. Kami ingin memastikan bahwa masyarakat tidak hanya mengenal produk dan layanan keuangan, tetapi juga mampu memilih dan memanfaatkannya secara tepat, aman, dan produktif sesuai kebutuhan,” tutur Muchlasin.

Bulan Inklusi Keuangan sendiri merupakan agenda nasional tahunan OJK bersama industri jasa keuangan yang berlangsung sepanjang Oktober 2026. Melalui rangkaian kegiatan ini, OJK Sulselbar dan FKIJK Sulselbar menyatakan komitmen untuk terus memperkuat ekosistem keuangan yang inklusif, aman, dan berkelanjutan bagi masyarakat Sulawesi Selatan. (*)

FAQ

Berapa nilai kredit perbankan di Sulawesi Selatan per Juni 2026?

OJK mencatat kredit perbankan di Sulsel mencapai Rp176,30 triliun pada posisi Juni 2026, tumbuh 5,27 persen dibanding Juni 2025 yang sebesar Rp167,47 triliun.

Bagaimana kualitas kredit perbankan Sulsel?

Rasio kredit bermasalah (NPL) berada di level 3,70 persen, sedangkan rasio kredit terhadap simpanan (LDR) mencapai 117,71 persen.

Berapa tingkat literasi dan inklusi keuangan di Sulsel?

Mengacu pada SNLIK 2026 yang disampaikan OJK Sulselbar, inklusi keuangan Sulsel sekitar 94 persen, sedangkan literasi keuangan sekitar 61 persen, sehingga terdapat selisih sekitar 33 persen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *